Gerimis Dalam Penggalan Fiksi
Posted on | June 17, 2009 | 3 Comments
It’s thirty five past five. Berarti sudah tiga menit berlalu sejak terakhir kali aku melirik jam tanganku. “How long should I be here waiting, how much longer can I stand to be like this ?” batinku gelisah. Baru saja aku hendak mengangkat tangan memanggil pelayan, ketika tiba-tiba dari arah belakang ku seorang pria muncul.
“Laki-laki itu !!” pekikku dalam hati. Dia berdiri tegap, kemeja putih simple cut bergaris-garis vertical hitam merah, celana pantalon hitam, tersenyum teduh kearahku. Selama sepersekian detik dunia rasanya berhenti. Laki-laki ini memang tidak pernah berhenti mempesonaku. Sihirnya membuat aku merasa bagaikan patung es di pesta para raja. Indah, warna, manis, getir, dingin, beku, semua jadi satu. Sejurus, aku hanya bisa diam. ADA yang hangat di hatiku. I knew I loved him, still now.
“Sorry macet banget, udah lama ya nunggunya? ” sergahnya.
“Hmmm …. tuh, liat aja sendiri”, sahutku cepat sambil menunjuk es krim Sunday-ku yang nyaris meleleh sempurna. Meleleh bak mataku dan hatiku yang begitu gemuruh setiap kali melihat kamu. Setiap kali pula aku sADAr, aku harus bisa mengendalikan diriku.
“Iya, sorry sorry, jangan marah ya, please”
Lelakiku seperti biasanya, ramah dan menyenangkan. Kacamata minus satu-nya bertengger rapi di puncak batang hidungnya yang mancung. Tampak rapi dan necis. Aku tersenyum sendiri dibuatnya. Oops… thank God dia tidak sedang melihat aku tersipu. Di luar yang sedari tadi mendung kini sudah berubah jadi gerimis, membasahi dinding kaca next to our seat.
“By the way, nice seat here. As always, you’re clever in picking up things, just like this afternoon I supposed. Sort of romantic spot ha..ha…ha..” katanya
“Gombal !!!! ” sergahku cepat
“No, it’s true. And to be honest, you’re cute when you’re angry”
“what ?? that is really dobel gombal plus totally picisan !!”
“Why ? you don’t see to be comfortable?” tanyanya
” Well yeah, it feels a bit auckward. I’ve been sitting here for more than an hour. The only thing I order is this ice cream, and I haven’t even touched it. People will think what would a girl like me doing in this café, alone, for such a long time ”
I’m sorry. I didn’t mean anything. I’m just trying to find the easiest nicest and the most private place for us to talk. We can leave now if you want”
“No it’s ok. It feels much better now with you here”
“cappuccino ?” tanyanya
“Sure, the frozen one please. Hot coffee makes me dizzy lately”
“Ok”
He puts off his glasses, memanggil pelayan. Mereka berdua ngobrol sesuatu yang aku nggak banget tertarik untuk memberikan kupingku. In fact hanya senyumnya yang sesekali dilemparkan ke pelayan itu yang menarik perhatianku. Dan gerimis di luar jendela itu yang paling menyandera mataku.

Gerimis terasa begitu damai. Iramanya rancak dan tenang membasahi dedaunan. Sesekali daun-daun itu tampak mengangguk-angguk, mempersilahkn sang gerimis membasuhi tubuhnya yang lusuh berdebu.
Nggak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan. Food and drinks he ordered has covered our table. Menu yang entah apa namanya. Cantik-cantik dengan garnis segar. Tapi tetep aja nggak bikin aku ngeh untuk memakannya. In fact cuman es krim lumer dan frozen cappuccino itu yang masih menarik perhatianku.
No more words came between us. One thing I feel … lekat sekali dia menatapku. ADA kerinduan yang amat pekat terpancar dari matanya yang sayu. “Siapa yang kau rasakan demikian hilang? Haruskah sorot mata seperti itu ditunjukkan oleh lelaki dewasa seperti kamu?”. Aku toh hanya bisa bertanya dalam hati.
“There are so many things I wanna tell you, but I can’t, I can’t even promise you anything. And you know what ? It makes me feels so …… lost” kata laki-laki didepanku.
Aku hanya terdiam. Lelakiku, kalo aku bisa, aku ingin menghampirimu. Duduk disampingmu, merengkuh jemarimu yang pasrah, atau kukecup dahimu yang tampak penuh tanya itu. Tapi… aku tidak boleh melakukannya. Aku ADAlah manusia. Dan itulah sebabnya aku diciptakan Tuhan sebagai manusia. Agar aku mampu menahan gemuruh di dADA ini.
“Apa yang membuat kamu di sini Ngga. Kenapa kamu masih mau bersamaku, sedangkan kau tau aku tidak mungkin menciummu ?”
“If I say because I love you or care about you, that will be too cliché. So perhaps I would say because you were me and I was you, we were just the same. Kita ini sama. I guess I’m here now because I know that’s the way you want me to be. Right here right now”
.
.
.
unknown
Related posts:
- Ayo Kejar Aku Ngga !!! Ayo Kejar Aku Ngga !!! iya, akupun telah menetapkan langkah...
- Dua Malam Lalu dua-malam lalu perempuan itu ingat kamu, laki-laki pijar yang...
- Elegi Angin Senja Aku yakin surat ini tidak akan pernah sampai kepADAmu, sebagaimana...
- Aku Sedang Tidak Ingin Aku sedang tidak ingin bicara dengan kamu, mungkin sama seperti...
- Good Morning GOD Good morning GOD, here is just one of millions...
- Merpati Di Mendung Kala hei–tahukah kau siapa aku ? aku ADAlah seekor merpati,...
- A Promise of Another Tomorrow I start this morning with a cup of cappuccino –...
- I said “Stay
Out“ Nothing’s so special about this post, except that right now...
Comments
3 Responses to “Gerimis Dalam Penggalan Fiksi”




June 17th, 2009 @ 12:33 pm
sudah berapa kali aq membaca sekuel cerita ini ya…
tp tetep ga bosen bahkan terkesan semakin membuat tanda tanya besar akan sesosok laki² yg dimaksud dsini
-well done girl-
January 14th, 2010 @ 11:57 am
[...] awesome if once I found this pinkish cloudy dusk sky. Or like when sometimes I could feel this sheer cool drizzle grasp in between my bright-blue umbrella. Ok, I must say rain sometimes is not that bad. And to [...]
February 17th, 2010 @ 9:43 am
[...] itu bermula dari sebuah mimpi engga jelas tentang sebuah fragmen di tengah gerimis mengundang. Itupun dimulainya sekitar pertengahan tahun lalu. The dream felt so real that time, [...]