Me ? No Cinderella
Posted on | June 19, 2009 | 18 Comments
Siapa yang engga tau cerita Cinderella ? ADA nggak ? yang nggak tau, tunjuk tangan hayoooo … suruh minum jus pete aja kali ya wkwkwk… today’s story is actually NOT entirely about the famous fairy tale Cinderella, but to be honest, semalem tiba2 pikiran saya ngeloyor ke kisah putri cantik bernama Putri Cinderella.
Sedikit overview nih, Cinderella dikisahkan sebagai putri cantik yang setelah kepergian ayahnya tinggal bersama ibu tirinya dan ketiga saudara tirinya, disia-siakan, disuruh kerja ini kerja itu, dikurung, blablabla. Kalo boleh minjem istilah sekarang, kali si Cinderella ini ngalamin pembunuhan karakter + obyek KDRT. Namun dalam dongeng diceritakan, berkat kesabaran, ketulusan dan kebaikan hatinya, akhirnya Cinderella, di suatu dance party – berkat sepatu kacanya – bertemu dengan pangeran tampan nan baik hati dari antah berantah. They married then live happily ever after ^_^ . Well, no more KDRT. Thanks to our God Fairy for all the miracle. Trus apa hubungannya Cinderella sama Jingga ?
Sebenarnya sih ini tentang mindset saya aja. Saya cuman mbatin dalam hati, jaman sekarang apa ADA ya perempuan yang bisa selembut dan sesabar Cinderella ? Tapi masalahnya saya rasa bukan di ‘jaman sekarang’ atau ‘jaman dulu’. The point is, saya memang tidak sesabar Cinderella. Saya rasa ruang toleransi saya cukup besar terhADAp orang lain. Kalo boleh minjem istilah jaman sekolah dulu, individu itu bersifat khas dan unik. Dan demikianlah, maka sah2 saya kalo masing2 orang punya karakter dan pembawaan sendiri2 yang berbeda satu dengan yang lain. Saya definitely tidak suka resek membuka permusuhan dengan orang lain, terutama teman2 saya sendiri. Saya tidak begitu tertarik ikut campur masalah orang lain, sebagaimana dalam beberapa hal, saya juga tidak pernah ingin orang lain mencampuri masalah saya. I can take good care of my own emotion, but in certain things, I can easily loose it. Just don’t ever snob me , and don’t ever judge anything about My Mom.
Sekitar tiga tahun lalu, saya ingat saya pernah menggebrak meja salah satu rekan kerja saya. Gara2nya waktu itu kuping saya sudah enggak kuat lagi ndengerin gunjingan dan fitnah2 enggak jelas yang berkali-kali ditujukan ke saya. Benar2 enggak mutu !! maki saya. Waktu itu rasanya saya sudah nggak betah pingin menampar dia. Wow, saya enggak bisa mbayangin apa jadinya kalo saya benar2 menampar dia. Jelas kekerasan fisik seperti itu tidak bisa dibenarkan oleh siapapun, dan gunjingan terhADAp saya tentu bakalan lebih dahsyat lagi. Tapi saya rasa waktu itu kata2 saya lebih menampar dia. Dia menangis tanpa saya perlu menjamah pipinya ato menonjok mukanya. Engga enak sih benernya dirasain, secara udah bikin orang lain nangis ato sakit hati. But the fact is, toh dia yang mulai duluan nyari gara2.

Saya bukan Cinderella yang cantik, super lembut dan sabar, saat ini saya bukan juga orang yang percaya bahwa bakalan ADA seorang peri baik hati yang datang dengan sayap malaikat yang tumbuh di kedua bahunya, bermahkota intan dan membawa tongkat ajaib dengan seribu bintang yang bisa merubah pumpkin menjadi kereta kencana, merubah tikus menjadi kuda gagah, dan merubah kucing menjadi kusir setia.
Salah satu dari sekian hal yang saya percaya ADAlah bahwa siapa yang menabur angin, dia juga yang akan menuai bADAi. Maka yang pasti sih, kebanyakan angin itu bakalan bikin kembung dan masuk angin. Jadi kalo mau sakit, ya monggo silahkan mulai menabur angin. On so is in vice-versa . It’s just that simple !!!
Happy Weekend
.
.
.
.
.
.
Related posts:
- Cerita Dalam Tujuh Bulan ? Kalo ngomongin angka tujuh, rasanya ADA saja hal2 yang mampir...
- High Heels Nightmare(s) : Tangisan Pilu Kitty Kecil ‘High Heels itu seksi yoo .. well at least High...
- 365 Days Project 2010 The Opening : Listen To The Rhythm Of The Falling
HeartRain It’s me, again, after some period of times disappear. Gone...
Comments
18 Responses to “Me ? No Cinderella”
Leave a Reply




June 20th, 2009 @ 2:57 pm
Masih suka dongeng yach…?!
Kan udah besar…..!!
June 20th, 2009 @ 3:54 pm
hepi weekend jg oom,,
June 20th, 2009 @ 4:19 pm
seneng saya liat cinderela di pelem2 ^ ^
June 20th, 2009 @ 11:58 pm
wah.. pinter jg klo di suruh dongeng mbak..
kenapa ga dijadiin buku aja nih.. artikelnya enak di baca lho..
salam kenal mbak..
June 22nd, 2009 @ 5:44 am
Kalau aku jadi anaknya, pasti akan lelap tidurku,karena di dongengin yg indah2/
June 22nd, 2009 @ 8:00 am
Jadi diri sendiri lebih baik mbak..
June 24th, 2009 @ 10:15 am
wis dibilangin kok mbak jingga emang maknyus kl urusan beginian
. angin juga bisa membangkitkan energi listrik lo hehe. eh btw sodara tirinya cinderela tuh 2 ato 3 oran sih. ingetku kok cuman 2
June 26th, 2009 @ 8:48 pm
emang susah jadi cinderella…
jangan dia, manohara aja dah tersiksa
hehehe
June 26th, 2009 @ 8:49 pm
cinderella tuh contoh seorang anak yang sabar terhadap ibu tiri-nya
June 26th, 2009 @ 9:23 pm
wew…website jingga saingan sama toko buku GRAMEDIA
LOL
June 27th, 2009 @ 2:59 pm
he he…, setuju tuh. jadi manahara aja susha
June 27th, 2009 @ 3:35 pm
Manohara sekarang sampai ada filmnya
Jangan” ntar di jadiin dongeng
July 1st, 2009 @ 1:02 pm
dongeng bisa menjadi alat pembelajaran yang bagus, tidak hanya anak tetapi juga orang dewasa..
July 4th, 2009 @ 11:32 am
hahaha kayak anak kecil aja mba…
July 6th, 2009 @ 6:49 am
wah mbak e bisa galak juga je.. hehehe..
July 9th, 2009 @ 9:27 pm
Nice story… mudah-mudahan setelah kejadian itu anda jadi lebih sabar meski tidak sesabar cinderella ya hehehhe
July 19th, 2009 @ 7:11 pm
pada ngomongin dongeng ya…
November 27th, 2009 @ 10:34 am
fitnah itu gak kenal mana kawan mana lawan ..apalagi ditempat kerja..banyak persaingan..kiat bersabar ajalah