Elegi Angin Senja
Aku yakin surat ini tidak akan pernah sampai kepADAmu, sebagaimana surat2ku terdahulu yang tidak pernah sampai ke tanganmu. Mungkin karena aku memang tidak pernah bisa menentukan arahmu dengan pasti. Peta yang kau bentangkan terlalu luas, angkasa yang kau paparkan terasa asing bagiku. Dan aku belum sedikitpun berhasil menyusuri noktah jejakmu, untuk kemudian dengan tepat bisa menuliskan alamat tempatmu berdiam sekarang . Tapi biarlah, hari ini tetap aku akan mengatakan sesuatu pADAmu. Bila satu saat kamu mampir di sini dan menemukannya, maka aku yakinkan bahwa tulisan ini memang untuk kamu. Iya, kamu, yang sedari awal aku tasbihkan dengan nama ‘angin’. Dan demikianlah ADAnya kamu.
Semalam kubuka kembali catatan2 yang tersimpan rapi di buku merah jambu. Aku belum juga bisa menjawab, kenapa ADA banyak catatan sayu ketika aku sedang bersama kamu, sedang saat pagi siang petang aku masih bisa berjalan di atas kedua kakiku tanpa aku harus menundukkan kepalaku. Maka aku membaca lagi coretanku, lagi dan lagi. Dan taukah kamu ? (more…)

Barangkali saja pADA malam-malam aku terlelap, setelah meyakinkan diriku sendiri untuk bermimpi, laki-laki itu membuat siasat mencuri helai-helai sayap dari malaikat atau iblis yang luput berkonspirasi, lalu merakitnya menjadi jaringan yang paling rumit sedunia, maka darinya laki-laki itu terbang.

